Bukber
Belakangan ini di media sosial sering muncul unggahan sinis tentang bukber hanyalah kedok untuk adu outfit, ajang show off pencapaian, flexing anu flexing inu. Ditambah dengan drama pra bukber seperti minta dijemput padahal rumahnya tidak searah, minta nebeng tapi nggak mau patungan bensin, udah nebeng tapi ngatur kendaraan mana yang harus dipake, pinjem HP orang biar nggak malu di tongkrongan, dll. Saat bukber hanya sibuk foto-foto lalu kembali fokus ke ponsel masing-masing. Tidak ada interaksi nyata dengan orang-orang di depan mereka. Foto-foto yang kemudian diunggah dengan caption bertema kebersamaan pun dinilai sebagai pencitraan, semua demi konten. Hanya agar dilihat orang lain bahwa mereka memiliki teman dan memiliki kegiatan. Yang tidak kalah penting drama pasca bukber: hutang makan minum selama bukber belum dibayar! Lalu, ramai-ramai orang mengamini kalau semua stereotip itu benar. Sedih. Apakah anak-anak jaman sekarang pertemanannya sepalsu itu? Apakah benar anak-anak jam...